Tampilkan postingan dengan label jejak hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jejak hidup. Tampilkan semua postingan

sendiri

sepi, sendiri,
itu adalah situasi saat dirimu tidak lagi tau, siapa kamu sebenarnya...
selama kamu masih mengenali  dirimu,
selama itulah kamu tidak sendiri.
dalam dunia ini, yang kau miliki hanya tuhan dan dirimu...
tidak ada yg lain...

serpihan waktu


rasanya tidak ingin mengulang hari,
tidak ingin melanjutkan hari....
cukup diamlah sejenak wahai waktu,,,,
biarkan aku menikmatinya,,, 
hanya menikmatinya tanpa perlu mendengar detik,,,
tanpa perlu menghitung menit...
aku ingin menatapmu tanpa lepas, sedikit... 
sedikit saja di sisa ketakutanku pada wujudmu...
aku ingin bercengkerama denganmu lagi, lagi dan lagi...
bercengkerama di sisa kebahagiaanku dengan dirimu...
aku ingin berkata padamu, disini ada yang aneh dalam diriku...
aku ingin berkata padamu, coba mendekat dan katakan apakah ini sama?
apakah sama dengan apa yang kamu rasakan...?
tapi cukup tidak perlu bertanya dan menjawab...
aku hanya ingin menikmatinya,,,
cukup menikmatinya dg cara ini...
rasanya ingin mengatakan, jgn pernah pergi, atau
teruslah seperti ini,,,
atau bahkan hal - hal yang diluar nalarku....
tapi ketika kembali menoleh kebelakang, 
aku melihat bayangku memanggilku pulang..
disana aku tersadar, bahwa aku bukanlah siapa-siapa...

perasaan itu...? :)

hay... siang ini terasa panas yah... fyuuuuhhhhh..

mungkin kalian yang membaca blog ini merasa aneh. isinya g mutu gitu.. oke, saya hanya manusia biasa yang sedang belajar menulis. terlepas dari apa isi blog ini dan siapa yang membacanya, saya tidak peduli.. :D
saya hanya belajar menulis dengan asumsi blog ini halaman pribadi saya. itu aja.. :D dengan harapan apa yang saya sharekan juga bermanfaat bagi yang membaca gitu...
saya belum berani menulis hal-hal serius.. karena merasa belum mampu..

oke, langsung saja, akhir2 ini ada kejadian-kejadian yang membuat ganjal dalam pikiran saya. yah ini tentang kata 'perasaan'. hey.. ayolah kalian pasti pernah memiliki sebuah perasaan,entah itu sedih, bahagia atau campur aduk. oke?

sebenarnya darimana sih munculnya perasaan-perasaan itu. lets we see...
saya pernah membaca status seorang teman, sehingga muncul asumsi saya, perkataan, baik berupa cacian ataupun pujian, tetplah sama. hanya berupa getaran suara yang merambat dari mulut seseorang melalui udara dan tertampung di telinga kita. lalu apa yang salah dari kata yang menyakitkan dan kata yang menggembirakan? itu adalah dari pola pikir kita. ketahuilah, perkataan baik atau buruk, mereka tetap sama sebagai sebuah suara yang merambat di udara. jadi untuk menerimanya sebagai seuatu yang menyakitkan atau membahagiakan itu kembali kepada pikiran kita sendiri. disini kita tidak melihat perkataan siapa yang menyakiti siapa. tapi lihatlah lebih jauh kedalam pikiran dan dugaan-dugaan kita sendiri. oke?

lalu bagaimana perasaan yang timbul akibat dari tingkah laku, bukan ucapan.?
sip.. katakanlah tingkah laku itu adalah bayangan yang terpantul ke mata kita karena adanya efek cahaya (entah cahaya matahari ataupun lampu). percayalah, tingkah laku, ekspresi atau yang lainnya itu hanya pantulan bayangan yang tertangkap oleh mata kita. baik itu tingkah laku yang baik maupun yang buruk. lalu disini siapa yang salah atas tingkah laku yang mungkin menyakiti kita? atau siapa yang benar atas tingkah laku yang membuat bahagia?
ya,,, kembali lagi pada diri kita sendiri. kitalah yang membuat kita bahagia karena prilaku org lain. dan kitalah yang membuat diri kita merana karena prilaku orang lain. oke?

sekarang coba bayangkan saat kamu melihat seseorang bertingkah laku menyebalkan kepada org lain. kamu pasti hanya akan menganggapnya sebagai 'tontonan'. tapi ketika hal itu terjadi padamu, kamu melihtnya sebagai 'kehidupan'. apa bedanya? disinilah letak perasaan itu muncul, yah karena pada dasarnya manusia adalah memang makhluk dengan perasaan, tidak mngkin jika manusia tidak merasakan hal-hal aneh. tapi bukankah dengan perasaan yang berlebih, anda akan jadi lebih terpuruk?

lalu bagaimana mengatasinya. hmmm...
jadi bagaimana kalau kita mencoba menganggap semua hanya bayangan dan suara. ketika sesorang berkata padamu dengan perkataan yang tidak menyenangkan. tangkaplah itu hanya sebagai suara yang merambat lewat udara. dan ketika seseorang berperilaku tidak menyenangkan, anggaplah itu bayangan yang terpantul oleh cahaya, oke?
jadi intinya jangan anggap hal-hal yang dapat melemahkanmu itu sebagai suatu 'kehidupan' tapi jadikan sebagai 'tontonan'. karena dengan menjadikan semua itu tontonan, kamu tidak perlu merasakan sakit dan sedihnya.. kamu hanya dapat merasakan melihatnya, dan mengambil pelajaran darinya... oke? ;)

be strong siss.... \^o^/

and I


to cry I must be so weak.
to smile I must be so cheer.
to laugh I must be so happy.
to do thats all I must be so STRONG...

my June

bulan ini adalah bulan pembongkaran...
dimana transisi menuju tahun berikutnya dalam hidupku akan tiba.
disini adalah bulan tanpa toleransi,,,

tetap tenang dan bersikap dewasa adalah pilihan yang mudah.
namun bukan sebuah perjalanan yang mudah pula...
karna teori dan fakta kadang tak berjalan seiringan,
karna terkadang harus ada hitam di atas putih...

konflik dan permasalahan adalah hal yang lumrah,
dan harus selalu ada, sebagai tanda bahwa raga ini masih mengandung nyawa...
betapapun sulitnya, betapapun susahnya...
masalah dan konflik tetaplah satu kewajiban yang harus di hadapi dan di selesaikan,
bukan kemudian dibiarkan dan dihindari.
karena ketika kita berteman dan berdamai dengan masalah,
kita akan sadar, betapa penting dan berharganya keberadaan mereka dalam hidup ini...


jejak-jejak kaki ini sekejap hilang dsapu buih-buih ombak pinggiran pantai,,, dan airmata ini perlahan membanjiri hatiku, penuh dan sesak mengisi relung jiwaku,,,,
duhai kesedihan,,, begitu berhargakah diri ini untukmu? sampai-sampai tak kau izinkan aku beranjak pergi meniggalkanmu....
duhai duka,,, begitu bermaknakah air mata ini untukmu? sampai-sampai tak kau izinkan ia untuk berhenti sejenak dari hadapmu...
duhai sakit,,, begitu sempurnakah engkau? sampai-sampai ditiap langkah ini selalu engkau yang bertakhta,,,,,

di tiap detik ku, hanya senyum yang ku punya,,, tanpa ku tau airmata ini masih mengalir di dalam hatiku,,,
tanpa ku rasa, luka ini perlahan melebar...
dan tanpa ingin ku hiraukan mata ini menyimpan banyak luka,,,,,

inilah,, dan terimalah,,,
hari ini aku hanya bisa memberi senyum, sebelum akhirnya aku memberi mu airmata,,,
aku hanya isa memberimu sedetik bahagia, sebelum akhirnya aku memberimu satu tahun duka....


~keep on walking to my afterlife~sayonara wa kanashi kotoba ja nai~

putih

Putih adalah netral, ia adalah asal, ia adalah sebuah dasar yang tidak memiliki sisi dan sebuah sisi yang tidak bersudut.

 Putih tidak memiliki warna, putih adalah simbol dari sebuah kesucian, kemurnian dan ketiadaan. Dunia adalah putih dimana manusia lah yang menuangkan warna di atasnya. Manusia adalah putih dimana manusia lain lah yang menuangkan warna di atasnya. Manusia berasal dari ketiadaan yang tanpa warna, dan akan kembali kepada ketiadaan yang tak berwarna. Itulah mengapa kematian ditandai dengan bendera putih. Menandai sebuah ketiadaan yang menuju sebuah ruang tanpa ujung dan tanpa sudut. Menandai sebuah keberadaan yang kembali pada asalnya yaitu 'ketiadaan'. Menandai bahwa ia yang berwarna telah kembali pada kemurniannya yang tanpa warna.

Mengapa harus putih? mengapa dunia adalah putih sampai manusia menuangkan berbagai warna kedalamnya? mengapa tidak hitam, biru atau yang lainnya?

Putih tidak memiliki warna. Tidak pernah ada pastel warna yang memberikan daftar putih di dalamnya. Tidak ada pena yang menggunakan tinta yang putih. Tidak ada Spidol dengan tinta yang putih pula. Mengapa tidak putih? karena putih adalah dasar. Putih adalah sebuah patokan untuk diwarnai. Ia adalah sebuah tembok yang menunggu untuk di cat, sebuah kertas yang menunggu untuk ditulisi.

Putih adalah diri kita,,, warna adalah langkah kita....
hidup adalah sebuah kanvas putih yang hanya akan diam ditempat. Warnalah yang akan membuatnya berharga dan dan bermakna.

flow is water, not your life...


bukan hidup yg mengalir seperti air, tp jadilah hidup yg merembes seperti air.
air yg mengalir itu selalu menuju tempat yg lebih rendah, tetapi air yg merembes itu selalu memiliki jalan di setiap celah sempit. :)

Enam pertanyaan Imam Ghazali

 Suatu ketika, saya yang hidupnya selalu terlihat seperti telur di dalam sarang yang belum menetas ini, di beri kesempatan oleh sang ayah untuk mengikuti acara perkemahan sekolah. Masih sangat jelas terekam dalam benak detik demi detik yang saya lalui disana, mungkin karena jarang sekali saya memiliki kesempatan untuk ikut berkemah. maklum, Izin sang ayah yang terlalu sulit di dapat. Waktu itu saya masih duduk di bangku kelas 3 MTs atau setara dengan kelas 3 SMP. Selama satu minggu perkemahan, setiap ba'da Maghrib, selalu ada guru yang bergiliran menyampaikan ceramah agama di panggung utama lapangan. Jarang sekali peserta perkemahan yang mau duduk beberapa menit saja untuk mendengarkan ceramah itu, terlihat dari lengangnya lapangan tiap kali ceramah dimulai, termasuk saya. :D
Suatu ketika, tanpa sengaja saya lewat di depan panggung utama tempat Guru berceramah. Entah apa yang menarik saya untuk menyimak ceramah di kesempatan itu. Tapi di balik ketidak sengajaan itu, sampai saat ini saya selalu bersyukur dan merasa beruntung. Ceramah di sore itu menegur saya, dan menjadi pelajaran berharga yang masih saya ingat dengan jelas sampai sekarang.

Waktu itu, Guru yang berceramah adalah seorang Guru Mts dari daerah Parigi, Sulawesi Tengah. Inilah isi ceramah yang ia suarakan dengan lantang lengkap dengan logat khas bugisnya.

"Pada suatu kesempatan, Imam Ghazali mengajukan 6 pertanyaan kepada murid-muridnya. Pertanyaan pertama :

1. Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?

Murid-murid Imam Ghazali menjawab “orang tua ustadz,,, guru, kawan, dan sahabatnya”. Imam Ghozali tersenyum dan berkata, "semua jawapan itu sudah betul... Tetapi masih ada lagi yang paling dekat dengan kita". Murid Imam Ghazali terdiam menunggu jawaban selanjutnya. "yang paling dekat dengan kita adalah 'KEMATIAN', Sebab itu sememangnya janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati".

Lalu Imam Ghazali menyebutkan pertanyaan kedua,
 
2. Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?

Murid -muridnya menjawab “negara Cina ustadz, bulan, matahari dan bintang -bintang”. Lalu Imam Ghozali dengan tersenyum menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan itu sudah betul. Tapi ada yang paling betul, yaitu “MASA LALU”. Walau dengan apa cara sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

3. Apa yang paling besar di dunia ini?”


Murid-muridnya menjawah “gunung ustadz, bumi dan matahari”.
"Semua jawaban itu benar", kata Imam Ghozali. "Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah 'NAFSU'. Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka".

4. Apa yang paling berat di dunia ini?


Ada yang menjawab “besi dan gajah”.
"Semua jawaban itu sudah benar", kata Imam Ghozali, "tapi yang paling berat adalah “MEMEGANG AMANAH”. Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.

5. Apa yang paling ringan di dunia ini?

Ada yang menjawab “kapas, angin, debu dan daun-daunan”.
"Semua itu benar", kata Imam Ghozali, "tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Sholat. Gara-gara pekerjaan kita meninggalkan sholat, gara-gara bermesyuarat kita meninggalkan sholat.

6. Apakah yang paling tajam di dunia ini?

Murid-muridnya menjawab dengan serentak, “pedang ustadz....”.
"Benar", kata Imam Ghozali, "tapi yang paling tajam adalah “LIDAH MANUSIA” Karena melalui lidah, Manusia selalunya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri".

Setelah sang Guru mengakhiri ceramahnya, saya kembali ke tenda dengan perasaan yang berkecamuk. Hanya 6 poin, tapi banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari sana untuk sesegera mungkin diterapkan. Bahkan saya masih ingat dengan jelas saat detik-demi-detik saya menyimak Guru yang berceramah dengan logat bugis itu. Walau saya tidak tau namanya, saya selalu berdo'a untuk kebaikan beliau, semoga ini dapat menjadi amal jariyah nya kelak. Amin
semoga bermanfaat..^^

satu setengah menit di persimpangan


Cerita tentang hari ini, Selasa, 19 Februari 2013.

Hari ini aku berangkat ke kampus seperti biasanya, tidak ada yang aneh, kecuali rute jalan yang ku lalui berbeda dari biasanya.
Di persimpangan jalan tak jauh dari Malioboro, terpaksa ku hentikan motor karena traffic light dengan terang menyala merah. Sambil menunggu lampu menjadi hijau, seperti kebiasaanku di hari-hari yang lain, ku amati situasi dan kondisi di sekelilingku, mungkin saja ada hal aneh yang terjadi. Saat dengan sengaja lirikan mataku berjalan-jalan di sana, seorang pria muda nampak sedang menawarkan sebuah koran harian. Ia berjalan dengan wajah 'sumringah' menyodorkan koran yang ada ditangannya seraya menyebutkan nama koran itu kepada satu persatu pengendara mobil dan motor yang berhenti disana. Perlahan tapi pasti, ia mengabsen semua pengendara yang ada disana, mulai dari baris depan sampai ke barisanku.

"koran mba..?" katanya padaku masih dengan wajah 'sumringah'nya. Aku hanya tersenyum dan menggeleng, lantas ia melanjutkan langkah kakinya menawarkan koran-koran ditangannya kepada mereka yang ada disana. Aku masih mengamati lelaki itu dari spion motor. Ia telah menyelesaikan tugasnya, setidaknya ia telah mengabsen semua pengendara disana, walau ternyata tak satu orang pun membeli koran yang ia tawarkan tadi. Masih dengan keceriaan di wajahnya, ia kembali ke trotoar jalan, mengambil sebotol air dan meminumnya. Ia mungkin seumuran denganku. Kulit dan rambutnya coklat terbakar matahari. Wajahnya melukiskan gambaran kerasnya hidup. tapi di balik itu semua ia adalah lelaki yang halus dan penuh semangat, terlihat dari senyumnya yang selalu mengembang di tengah terik matahari siang itu. Sejenak kubayangkan ia adalah orang yang hebat. Beginilah cara Allah membagi hidup dengan adil kepada semua umatnya. Jika aku berada di posisi lelaki penjual koran itu, betapa aku takkan sanggup, panas, debu dan haru bergelut dengan rasa malu. Sebaliknya, jika ia berada di posisiku, mungkin ia juga takkan sanggup, luka dan masa lalu yang suram akan menghantui kapanpun dan dimanapun.

Namun di balik itu semua, aku yakin dia dan diriku adalah sama. Kami mempunyai alasan yang sangat kuat untuk bertahan hidup dan selalu berjalan tanpa mengenal lelah....

Tidak lama setelah itu, lampu kembali hijau, ku tarik pelan gas di tangan kananku dan pergi meninggalkan persimpangan itu...~

Jogja Toys Fair 2013




Cosplay (コスプレ Kosupure) adalah istilah bahasa Inggris buatan Jepang (wasei eigo) yang berasal dari gabungan kata "costume" (kostum) dan "play" (bermain). Cosplay berarti hobi mengenakan pakaian beserta aksesori dan rias wajah seperti yang dikenakan tokoh-tokoh dalam anime, manga, manhwa, dongeng, permainan video, penyanyi dan musisi idola, dan film kartun. Pelaku cosplay disebut cosplayer, Di kalangan penggemar, cosplayer juga disingkat sebagai layer.
Di Jepang, peserta cosplay bisa dijumpai dalam acara yang diadakan perkumpulan sesama penggemar (dōjin circle), seperti Comic Market, atau menghadiri konser dari grup musik yang bergenre visual kei. Penggemar cosplay termasuk cosplayer maupun bukan cosplayer sudah tersebar di seluruh penjuru dunia, yaitu Amerika, RRC, Eropa, Filipina, maupun Indonesia.


Tanggal 9-10 Februari 2013 BlackRose Jogja mengadakan event tahunan Jogja Toys Fair yang terdiri dari serangkaian acara-acara dan kompetisi menarik, diantaranya adalah cosplay. Dengan membayar 10.000 untuk 2 hari, para otaku sudah dapat memuaskan mata dengan melihat aksi para cosplayer, battle tamia, yu-gi oh dll. Para Cosplayer juga selalu siap sedia untuk di ambil gambarnya oleh para otaku yang berbondong-bondong datang membawa kamera masing-masing (termasuk saya^^).

Para Cosplayer yang saya dan teman-teman temui sangat ramah, di balik kostum mereka yang ribet dan panas tentunya, mereka masih mau berpose untuk kami. terlebih lagi mereka selalu mengucapkan 'terimakasih' setelah kami selesai mengambil gambar mereka. Apa gak kebalik tuh...? kita yang minta foto kog mlah mereka yang berterimakasih? -_-

Eits, tapi tidak semua Cosplayer itu ramah dan 'welcome' lho... Ada juga Cosplayer yang ogah-ogahan dan sok gak butuh waktu di ambil gambarnya, dan yang paling parah, ada yang melarikan diri waktu mau di ambil gambarnya. (yah namanya juga manusia)



Menyenangkan dan mengesankan. Terlebih lagi datang ke even seperti ini bisa mengurangi sedikit kepenatan yang mungkin memenuhi otak kita. Yah,,, itung-itung seperti masuk dunia animasi hidup. haha xD
Lebih asyik lagi kalo datengnya rame-rame. Kita bisa jadi juri dadakan nih disana,,, (komentar semau dan sesuka hati di belakang para cosplayer) hohohohohoho ~^0^~





Yuk temen-temen yang belum pernah dateng ke event seperti ini, boleh dicoba dan dimasukin ke catatan agenda nih... seru lhooo... ^^
























Cherry~


 Embun pagi yang bening menghiasi butir cherry yang mulai menguning. Bulir-bulir tetesannya bak kesejukan ditengah kekeringan sebuah keheningan ditengah keramaian...



















Tak Lagi Sama

Cerita ini tak lagi sama 
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain

Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku

Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui 
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari

Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku ooh

Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku 
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku, kau melegakan aku

Death

Setiap manusia yang dilahirkan dan menjalani kehiduan normalnya, pastilah pernah merasakan sakit, sehat, susah, senang, duka dan bahagia. Terlepas dari itu semua, setiap manusia yang dilahirkan pasti akan menjemput hari dimana ia akan kembali ke tempat darimana ia dilahirkan. Setiap manusia yang hidup pasti akan mati...
Hidup ini hanyalah perjalanan singkat yang tak dapat dihitung dengan rumus matematika dan tidak bisa di ukur dengan persama'an-persama'an Al-Jabar. apakah X jika dikali atau dibagikan dengan Y akan menghasilkan berapa panjang gelombang kehidupan seorang manusia di dunia. Apakah kecepatan gerak manusia per menitnya jika dibagi dengan menit dalam 24 jam akan mendapatkan hasil akhir berapa lama ia akan hidup di dunia. Tidak ada yang mengetahuinya. Hanya Allah yang mengetahui kapan, dimana dan sedang apa kita saat kematian itu datang.

"Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-kali, tidak dapat dikalahkan". (Q.S. Al-Waaqi'ah : 60)

Kematian adalah misteri yang tidak diketahui oleh siapapun. kapan dan dimana akan terjadinya... ketika kita sudah siapkah, atau bahkan ketika kita masih terlena akan kesenangan duniawi.... bukankah dalam 24 jam, Malaikat Izrail mendatangi kita sebanyak lebih dari 75 kali? Ia datang mengunjungi setiap manusia dengan sebuah pertanyaan, "sudahkah sekarang waktunya?". kemudian jika Allah menjawab pertanyaan itu dengan perintah untuk pencabutan nyawa. maka tanpa peduli dimana manusia itu berada, sang malaikat akan segera melaksanakan perintah Allah pada jam, menit dan detik yang tepat tanpa meleset sedikitpun.

"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?" (Q.S. Annisa : 78)

sabarkanlah jiwamu~

aku selalu bersabar.
dalam diam aku bersabar, dalam luka yang berselimutkan senyum akupun bersabar.
tidak ada hal yang paling indah di dunia ini selain sabar. karena hanya mereka yang kumiliki. kesabaran-kesabaran yang selalu menemani hidupku. menjadi bayangan di teriknya siangku... dan menjadi angin dingin di malam gelapku...
hidup yang kujalani tak ubahnya sebuah papan catur hitam dan putih, 24 jam siang dan malam, bayangan yang gelap dan terang bagaikan romansa duka dan bahagia.
tak ada duka yang memilukan, dan tak ada kebahagiaan yang menyenangkan. dalam hidup, hanya dua tuntutan yang harus ku selesaikan... tuntutan sebab, dan akibat. mereka menyebut itu adalah hukum alam yang mutlak terjadi dalam kehidupan. tapi aku menyebutnya sebagai bagian yang kita ciptakan dalam jejak-jejak di atas jalan yang kita tapaki ini.
dan lagi-lagi bersabar untuk setiap tanjakan terjal di hadapanku. bersabar untuk mendakinya sedikit demi sedikit sampai akhirnya nanti aku kan sampai di puncak tanjakan itu. harus bersabar pada sungai yang terbentang luas, dalam dan berarus kuat. bersabar dan mencari cara sampai akhirnya nanti aku kan mampu melawan arus itu untuk sampai pada puncak sumber yang mengalir tenang dan bening.

sahabat adalah sebuah keajaiban~


kisah ini menceritakan tentang betapa persahabatan adalah hal yang menakjubkan dan ajaib...
di awali dengan kisah persahabatan seorang lelaki dan perempuan, sebut saja namanya Budi dan Indah. mereka mulai saling mengenal saat memasuki semester ke tiga di bangku Strata 1. kehidupan berjalan begitu menyenangkan bagi mereka, bagaikan dua anak kecil yang belum mengerti pahitnya kopi dan hanya mengerti manisnya sebutir permen. mereka bukan kakak beradik, bukan juga sepasang kekasih ataupun sepasang suami-istri. mereka hanya sepasang sahabat. mereka masih selalu bersama, bahkan sampai pada perjuangan mendapatkan gelar 3,5 tahun dan pekerjaan layak pun mereka masih bersama. sudah 3x dalam 2,5 tahun mereka berpindah pindah dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain secara bersama-sama.

suatu sore di hari minggu, tanpa sengaja Indah bertemu Iwan, teman lama masa kuliah dulu. mereka duduk bersama menikmati senja yang mulai memudar di pelataran sebuah warung kopi. mereka saling menanyakan kabar dan bertukar cerita satu sama lain. tidak ada keakraban disana... hanya makna-makna kesombongan yang muncul dari setiap kalimat yang Iwan ucapkan dan gurat-gurat ke-muak-an yang tersirat di wajah Indah. disela-sela pembicaraan Indah terdiam, lama. Iwan menanyakan masalah apa yang membuat Indah terdiam begitu lama. Indah berdeham dan memulai ceritanya.

"aku hanya sedikit teringat masa lalu..." katanya dengan senyum tertahan
"masih ku ingat dengan jelas, di awal semester ke dua perkuliahan kamu mengajakku berkenalan... setelah itu, hampir setiap hari kita bertemu, seolah tak ada waktu yang patut dilupakan untuk hal itu. kita membuat hari demi hari menjadi jam-jam yang yang selalu terasa berarti. mengisinya dengan saling menyemangati dan saling mengucapkan kata-kata bijak yang kita punya. saat seperti itu, rasanya seperti tak pantas dilupakan. tapi sekarang aku baru sadar, saat kita saling bertukar pikiran dan pendapat, sebenarnya yang ada disana hanyalah niat untuk saling menonjolkan ego dan keistimewaan diri sendiri." lagi-lagi Indah terdiam sejenak dan mengambil nafas panjang,

"tapi semua itu tidak mengapa... aku sempat merasa bahagia atas persahabatan dan keakraban yang pernah kita bangun. dari hari ke hari di semester itu, kurasa kita semakin dekat, bahkan melebihi kedekatan seorang sahabat. kamu pun demikian. saat itu aku merasa kamu bagaikan dewa penyelamat yang menarikku dari kehancuran yang perlahan-lahan menderaku. pernah kutanyakan, mengapa kamu begitu peduli padaku... 'karena kamu adalah orang yang begitu baik...' itulah yang kamu katakan saat itu. tapi semua seolah bertolak belakang dengan sikap dan kata-katamu. di awal semeter 3, kamu menjauhiku. saat aku terdera musibah yang meruntuhkan dinding pertahananku, kamu mulai menjauh. semakin hari kamu semakin jauh, menghindar dan akhirnya hilang... tak ada lagi keakraban, tak ada lagi senyum dan sapa seperti hari-hari sebelumnya... tidak ada lagi hari seperti hari yang dulu tak pernah ingin dilupakan. dan aku merasakan sesak itu, sakit itu, dan luka yang tak terperi sakitnya...."

"aku hanya bisa menyapamu lewat dinding kamarku yang hampa. dan memandang mu dari balik awan yang kelabu. kamu menjadi seseorang yang seolah-olah tak pernah ku kenal. dan anehnya,,, aku tak pernah lagi melihat senyum dan tawamu yang renyah seperti dulu kepadaku. aku hanya bisa melihat punggungmu yang berjalan menjauh dan hilang bersama gadis-gadis yang jauh lebih sempurna dariku. senyum dan tawamu begitu renyah kudengar. suara lantangmu begitu bersahabat kudengar. tapi itu semua tak lagi untuk aku.. tapi untuk mereka yang lebih sempurna dariku. tak pernah ada keakraban sejak saat itu hingga saat aq duduk disini, berjajar denganmu menatap langit yang sama, keakraban itu telah hilang dan tak pernah lagi terjadi. saat itu dan sampai saat ini, aku bertanya tanya dalam hatiku..."
"apa yang salah denganku...? atau apakah yang salah denganmu...?"

Iwan terdiam mengingat persahabatan singkat mereka 6,5 tahun yang lalu. Iwan mengangkat kepalanya dan menerawang jauh ke atas senja yang kian memudar.

"tidak ada yang salah... bukan Indah yang salah, dan tentunya juga bukan saya. mungkin yang salah adalah keadaan... 6 bulan berjalan tanpa alasan saat itu, saat kita menjadi sahabat dekat... dan entah mengapa diujung kedekatan itu saya merasa bosan. saya hanya merasa jenuh dan ingin mencari sesuatu yang lain, yang baru dan yang saya kejar selama ini. saya rasa Indah pun bosan dengan keadaan yang seperti itu". jawab Iwan dengan nada datar.

"jadi kamu bosan...?" tanya Indah sambil berdiri dari duduknya. ia berjalan menuju pemilik warung kopi dan membayar tagihan untuk secangkir kopi mocca dan secangkir kopi susu. ia kembali menghampiri Iwan dan berkata bahwa ia sudah harus pulang karena hari mulai gelap. setelah mengucapkan selamat tinggal dan berterima kasih, Indah berjalan menjauh, meninggalkan Iwan. ia berjalan dibawah langit senja yang kini mulai berubah menjadi kelabu menyusuri pinggiran pikiran dan perasaannya yang terabaikan dan terbuang.

keesokan harinya di kantor, Indah kembali bertemu dengan Budi. hari itu, tak seperti biasanya Indah menekuk wajahnya sepanjang jam kerja. sepulang kerja, Budi menawarkan Indah untuk makan malam di kedai Ramen favorit mereka. sesampainya di kedai, Budi menanyakan tentang kondisi Indah yang tak biasa hari ini.
"aku bertemu Iwan kemarin. kami bercerita tentang masa-masa di kampus dulu...." Budi mengangguk paham.
"aku menanyakan padanya tentang persahabatan kami yang hanya berjalan di satu semester dulu. dan dia mengatakan bahwa dia bosan menjadi sahabatku... sekarang, aku hanya ingin bertanya padamu. Iwan yang menjadi sahabatku selama 6 bulan saja merasa bosan denganku. apakah kamu yang selama ini selalu menemaniku tidak bosan menjadi sahabatku??"
Budi tersenyum, kemudian tertawa. ia berkata bahwa ia tidak pernah merasa bosan selama menjadi sahabat Indah, bahkan ia merasa senang.
"aku gak pernah merasa bosan Indah, jangankan 6 bulan. bahkan kita udah 6 tahun jadi sahabat... sekarang justru aku yang ingin tanya, apakah kamu tidak bosan beteman denganku?? karena rasa-rasanya aku ini seperti ingin menjadikan kamu teman hidup di sepanjang umurku". :)

hidup itu...

hidup adalah untuk orang lain. ketika hidup itu berjalan dalam jawaban sebuah pertanyaan,
 'bagaimana kita berinteraksi dengan org lain'.
hidup adalah untuk diri sendiri, ketika hidup itu berjalan dalam jawaban sebuah pertanyaan,
 'bagaimana org lain berinteraksi dengan kita'.


hiduplah seperti ilalang,,, wlau tertiup angin, ia hanya bergoyang lembut tanpa bergeming pergi dari tempatnya... walau akhirnya kering dan mati, tapi ia akan kembali tumbuh dengan warna yang lebih hijau...

~Aoi

Template by:

Free Blog Templates